Sunday, August 4, 2024

PPKn Kelas XII BAB 1 - Ber-Pancasila dalam Keseharian di Masyarakat (Bagian 2)

 

BAB 1 Berpancasila dalam Keseharian di Masyarakat

Bagian 2 - Saya dan Pancasila

Materi Pendidikan Pancasila Fase F Kelas 12 Kurikulum Merdeka, untuk Elemen Pancasila adalah Ber-Pancasila dalam Keseharian di Masyarakat

Materi Pancasila terdiri dari 4 bagian , yaitu :

  1. Saya dan Pancasila
  2. Saya Ber-Pancasila
  3. Laporan Rancangan Portofolio

Subbab 1: Contoh Pengamalan Pancasila

Pada subbab pertama, kita mempelajari berbagai contoh pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dan melalui studi kasus.

Contoh-contoh ini membantu memahami bagaimana Pancasila dapat diterapkan dalam berbagai situasi dan aktivitas sehari-hari.

Subbab 2: Praktik Pengamalan Nilai-Nilai Pancasila

Di subbab kedua, fokus beralih pada praktik langsung dari nilai-nilai Pancasila.

Kamu diminta untuk membuat portofolio yang mendokumentasikan praktik pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-harimu.

Portofolio ini bertujuan agar praktik ber-Pancasila kamu terus terekam dan konsisten dilakukan.

Sebelum membuat portofolio, penting untuk memahami bentuk-bentuk praktik pengamalan nilai-nilai Pancasila sebagai inspirasi.

Praktik-praktik tersebut harus disesuaikan dengan kondisi dan konteks masing-masing individu.

Sila Ke-1: Ketuhanan Yang Maha Esa

Pada sila pertama, bangsa Indonesia diajarkan untuk memercayai dan menghormati adanya Tuhan Yang Maha Esa.

Kepercayaan ini menjadi pedoman bagi setiap individu untuk menjalankan ajaran agama atau kepercayaannya.

Contoh Praktik Pengamalan Sila Pertama:

  1. Memeluk Agama/Kepercayaan: Memeluk dan memercayai sepenuhnya salah satu agama atau kepercayaan, mengamalkan ajaran-ajarannya, dan menghindari hal-hal yang dilarang oleh agama tersebut.
  2. Menghargai Pemeluk Agama Lain: Menghargai pemeluk agama lain dengan tidak melakukan penistaan agama,

seperti tidak merendahkan atau melecehkan Tuhan agama lain, tidak melakukan pembakaran rumah ibadah, dan tidak menghalang-halangi orang lain melaksanakan ibadah.

  1. Kerja Sama Antar Agama: Bekerja sama dengan pemeluk agama lain tanpa membeda-bedakan berdasarkan agama atau kepercayaan.
  2. Tidak Memaksa Keyakinan: Tidak memaksa orang lain untuk memeluk agama atau kepercayaan tertentu.
  3. Menghormati Ibadah: Tidak membuat kegaduhan atau mengganggu ketika pemeluk agama lain melaksanakan ibadah atau upacara keagamaan.
Sila ke-2: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Prinsip Dasar: Setiap manusia lahir dengan harkat dan martabat yang sama di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.

Oleh karena itu, setiap manusia memiliki persamaan derajat, hak, dan kewajiban asasi tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit, dan lain sebagainya.

Contoh Praktik Pengamalan Sila Kedua:

  1. Menentang Human Trafficking: Aktif melawan segala bentuk perdagangan manusia yang masih sering terjadi.
  2. Menghargai Perbedaan: Berbaur dan bergaul dengan semua orang tanpa membeda-bedakan latar belakang.
  3. Menolak Bullying dan Kekerasan: Tidak melakukan bullying atau kekerasan fisik maupun nonfisik baik di sekolah maupun di luar sekolah.
  4. Kegiatan Sosial: Terlibat dalam kegiatan sosial seperti membantu donasi kepada panti asuhan, korban bencana alam, korban kekerasan, dan terorisme.
  5. Mencegah Kejahatan dan Kekerasan: Mencegah terjadinya kejahatan dan kekerasan kepada siapa pun, tanpa memandang latar belakang mereka.
  6. Pemeliharaan Lingkungan: Berpartisipasi dalam upaya dan program pemeliharaan lingkungan yang layak dan berkelanjutan.
  7. Partisipasi Internasional: Ikut serta dalam kegiatan internasional seperti pendidikan, olahraga, atau program perdamaian dunia.
  8. Kolaborasi Lintas Negara: Berkolaborasi dengan siswa dari negara lain untuk menciptakan persaudaraan global.
  9. Menghindari Fitnah dan Ujaran Kebencian: Tidak membuat fitnah, ujaran kebencian, serta tidak menyebarluaskan hoaks.

Pengamalan nilai-nilai Pancasila, khususnya sila kedua dapat dilakukan dengan berbagai cara yang mencerminkan penghormatan terhadap harkat dan martabat setiap manusia, serta tindakan nyata  alam

melawan ketidakadilan dan kekerasan. Dokumentasi praktik-praktik ini dalam bentuk portofolio membantu menjaga konsistensi dan mencatat perkembangan pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Sila ke-3: Persatuan Indonesia

Sila ketiga dari Pancasila, Persatuan Indonesia, menekankan pentingnya menjaga  Persatuan dan kesatuan bangsa. Jika sila kedua mengembangkan kemanusiaan universal yang berlaku untuk semua manusia, sila ketiga fokus pada persatuan Indonesia di tengah-tengah polarisasi dan konflik,

baik antarwarga maupun gerakan separatisme, serta menghadapi tantangan dari kelompok yang ingin menggantikan Pancasila dengan ideologi lain.

Praktik Pengamalan Sila Ketiga

Berikut adalah beberapa contoh praktik pengamalan sila ketiga dalam kehidupan sehari-hari yang bisa disesuaikan dengan konteks dan kondisi masing-masing individu:

  1. Mempertahankan Status Warga Negara Indonesia:
o Tetap menjadi warga negara Indonesia meskipun ada banyak masalah yang dihadapi oleh bangsa dan negara. Jadikan masalah tersebut sebagai peluang untuk berkontribusi kepada bangsa dan negara.
  1. Mempertahankan dan Menjaga Tradisi Lokal:

o Melestarikan pakaian tradisional seperti batik serta tradisi-tradisi turun-temurun di lingkungan masing-masing.

  1. Menjaga Lingkungan Indonesia:

o Melakukan upaya menjaga kebersihan dan mencegah perusakan lingkungan, seperti tidak melakukan pembalakan liar.

  1. Menempatkan Kepentingan Nasional dan Kelompok di Atas Kepentingan Pribadi:

o Menolong teman yang sedang kesusahan dan memprioritaskan kepentingan bersama.

  1. Memajukan Perekonomian Lokal:

o Memberdayakan UMKM serta membeli dan menggunakan produk-produk lokal daripada produk impor.

  1. Menghindari Konflik:

o Tidak mengejek, mengadu domba, atau membully sesama warga negara dengan latar belakang yang berbeda.

  1. Menghentikan Penyebaran Hoaks dan Ujaran Kebencian:

o Berpartisipasi dalam upaya menghentikan penyebaran berita palsu dan ujaran Kebencian.

  1. Ikut Serta dalam Kegiatan Sekolah dan Masyarakat:

o Aktif dalam kegiatan di sekolah dan masyarakat sebagai konsekuensi menjadi warga sekolah dan masyarakat.

Sila ke-4: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

Setiap manusia memiliki latar belakang yang berbeda-beda, yang bisa menyebabkan kesalahpahaman, prasangka negatif, dan konflik.

Sila keempat Pancasila memberikan panduan untuk mengedepankan hikmat dan kebijaksanaan dalam musyawarah, artinya, keputusan harus diambil dengan bijaksana tanpa memaksakan pendapat.

Definisi Hikmat dan Kebijaksanaan

 Hikmat: Kelembutan hati dan kejernihan berpikir.

 Kebijaksanaan: Penggunaan akal pikiran dan akal budi.

Implementasi dalam Kehidupan Bernegara

Indonesia harus dipimpin oleh pemimpin yang memiliki hikmat kebijaksanaan melalui musyawarah atau demokrasi.

Pemimpin di sini mencakup semua jenjang dari RT/RW, lurah, walikota, bupati, gubernur, hingga presiden, serta pemimpin di berbagai sektor lainnya.

Contoh Praktik Pengamalan Sila Keempat dalam Keseharian

  1. Tidak Memaksakan Kehendak:

o Tidak memaksakan pendapat kepada orang lain, termasuk tidak melakukan suap untuk mendapatkan dukungan.

  1. Melakukan Musyawarah:

o Selalu bermusyawarah dalam memutuskan hal yang menyangkut kepentingan banyak orang dan mematuhi keputusan musyawarah meskipun berbeda pendapat.

  1. Menyuarakan Aspirasi:

o Aktif menyuarakan aspirasi, gagasan, dan solusi kepada pemimpin terkait upaya menyelesaikan masalah.

  1. Menggunakan Akal Sehat dan Hati Nurani:

o Bersikap, bertindak, dan berpikir logis serta menggunakan hati nurani sebelum bertindak, termasuk berefleksi tentang benar dan manfaat tindakan tersebut.5. Penyelesaian Konflik:

o Terlibat dalam upaya penyelesaian konflik dan mendamaikan pihak yang bertikai dengan cara-cara demokratis.

Sila ke-5: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Keadilan adalah nilai universal yang harus dijunjung tinggi oleh setiap manusia yang memiliki harkat, martabat, hak, dan kewajiban yang sama.

Menurut Pramoedya Ananta Toer, seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.

Keadilan tidak otomatis hadir, dan perlu diperjuangkan di tengah banyaknya ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita.

Definisi Keadilan Sosial

Keadilan di sini tidak hanya terbatas pada bidang hukum, tetapi mencakup semua aspek kehidupan.

Sukarno menyatakan bahwa keadilan sosial adalah suatu kondisi masyarakat yang adil dan makmur, di mana semua orang hidup berbahagia tanpa penghinaan, penindasan, dan penghisapan.

Semua orang cukup sandang, papan, dan hidup dalam suasana yang damai dan tenteram.

Contoh Praktik Pengamalan Sila Kelima dalam Keseharian

  1. Tidak Melakukan Pemerasan dan Penipuan:

o Hindari pemerasan dan penipuan di lingkungan sekolah, rumah, maupun masyarakat.

  1. Berlaku Adil sebagai Pemimpin:

o Ketika menjadi pemimpin (seperti OSIS atau ketua pemuda), bersikap adil kepada semua anggota tanpa memandang suka atau tidak suka.

  1. Hidup Sederhana:

o Tidak bersikap boros, hidup mewah, atau pamer kekayaan di tengah masyarakat.

  1. Menolong Orang yang Kesulitan:

o Membantu orang yang kesulitan, kesusahan, korban bencana alam, korban kekerasan, dan terorisme.

  1. Menjaga Keseimbangan hidup.

Memastikan keseimbangan hidup jasmani dan rohani, serta menjaga kesehatan fisik dan mental diri sendiri dan orang lain.

  1. Memanfaatkan Sumber Daya Alam:
o Menggunakan sumber daya alam untuk kepentingan seluruh masyarakat.

  1. Menghargai Hasil Karya Teman:

o Tidak melakukan plagiasi dan menghargai hasil kerja teman.

  1. Menyampaikan Kebenaran:

o Berani menyampaikan kebenaran demi menegakkan keadilan, termasuk bersedia menjadi saksi atas kejadian yang diketahui.

  1. Membantu dalam Gerakan Sosial:

o Ikut serta membantu tenaga dan materi dalam gerakan sosial untuk membantu orang lain.

Evaluasi dan Pengamalan Nilai-nilai Pancasila

Langkah 1: Evaluasi Diri dalam Mengamalkan Nilai-nilai Pancasila

Setelah membaca bahan bacaan di atas, kamu diharapkan melakukan evaluasi diri terkait sejauh mana Kamu telah mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Gunakan skala 1-10 untuk menilai penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupanmu:

Langkah 2: Memberikan Alasan untuk Penilaian Diri

Berikan alasan mengapa kamu menilai dirimu layak mendapatkan nilai tersebut. Pertimbangkan aspek-aspek berikut:

 Sila Pancasila mana yang paling kuat kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari?

 Bagaimana kamu telah menerapkan nilai-nilai tersebut?

Langkah 3: Merencanakan Peningkatan Penerapan Pancasila

Setelah memberikan penilaian terhadap dirimu, pikirkan apa yang akan kamu lakukan atau rencanakan agar penilaianmu terus meningkat. Jelaskan apa yang perlu dilakukan, direncanakan, atau ditargetkan untuk meningkatkan angka penerapan Pancasila.

Langkah 4: Menulis Contoh Perilaku Sesuai Nilai-nilai Pancasila

Tuliskan sekurang-kurangnya tiga contoh perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat yang telah kamu lakukan dalam satu minggu ini.

Setiap contoh harus memuat informasi berikut:

  1. Deskripsi perilaku.
  2. Sila Pancasila yang digambarkan.
  1. Alasan memasukkan perilaku tersebut ke sila tersebut.
  2. Refleksi dari perilaku yang kamu lakukan.

Contoh format yang bisa digunakan:

Perilaku Saya: [Nama Perilaku]

Sila ke-: [Nomor Sila]

Deskripsi:

Langkah 5: Diskusi dan Presentasi

Setelah menulis contoh perilaku, ceritakan dan diskusikan dengan rekanmu. Kemudian, presentasikan di kelas dengan mempersiapkan hal-hal pokok yang perlu disampaikan. Hindari membaca catatan dan lakukan kontak mata dengan semua rekan di kelasmu.

Langkah 6: Menyusun Portofolio “Saya Ber-Pancasila”

Buat portofolio yang merekam pemikiran dan perilakumu dalam mempraktikkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat. Prinsip-prinsip yang harus dipegang dalam menyusun portofolio ini adalah:

  1. Kejujuran: Ceritakan secara jujur dan apa adanya perilakumu dalam mempraktikkan nilai-nilai Pancasila.
  2. Konsistensi: Rutin mencatat perilaku yang menggambarkan nilai-nilai Pancasila.

Deskripsikan secara detail tindakan yang dilakukan.

  1. Refleksi: Tuliskan refleksi dari perilaku yang dilakukan. Pertimbangkan pertanyaan- pertanyaan reflektif seperti:

o Perilaku yang dilakukan paling mendekati sila ke berapa dan mengapa?

o Apa yang dirasakan setelah melakukan perilaku tersebut?

o Penilaian diri dari 1-10 untuk perilaku tersebut dan alasannya.

  1. Desain dan Layout: Sesuaikan desain dan layout portofolio sesuai dengan selera masing- masing. Gunakan buku khusus atau teknologi seperti website/blog, Ms. Word, Ms. PowerPoint, atau Ms. Excel.

Langkah 7: Mengisi Portofolio Secara Rutin

Portofolio ini akan digunakan sepanjang satu atau dua semester ke depan. Dengan demikian, kamu akan mencatat dan merefleksikan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat.

Pastikan portofolio memuat:

  1. Identitas diri (nama, kelas, nomor induk, foto).
  2. Deskripsi perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
  3. Penilaian diri dan alasan penilaian tersebut.
  4. Perasaan dan manfaat perilaku bagi masyarakat.
  5. Bukti perilaku (foto atau tanda tangan dari pihak yang berwenang).

Tips untuk Menyusun Portofolio:

 Konsisten mengisi portofolio.

 Lengkapi komponen portofolio (deskripsi, nilai diri, refleksi, bukti, rencana tindak lanjut).

 Desain dan layout portofolio sesuai dengan selera pribadi.

PPKn Kelas XII BAB 1 - Ber-Pancasila dalam Keseharian di Masyarakat (Bagian 1)

 


BAB 1 Berpancasila dalam Kehidupan di Masyarakat
Bagian 1 - Saya dan Pancasila

Materi Pendidikan Pancasila Fase F Kelas 12 Kurikulum Merdeka, untuk Elemen Pancasila adalah Ber-Pancasila dalam Keseharian di Masyarakat

Materi Pancasila terdiri dari 4 bagian , yaitu :

Saya dan Pancasila
Saya Ber-Pancasila
Laporan Rancangan Portofolio
Artikel ini merupakan Rangkuman dari bagian 1, Ber-Pancasila dalam Keseharian Masyarakat, sumber dari Buku Teks Utama, Buku Siswa kelas 12.

Bab 1: Ber-Pancasila dalam Keseharian di Masyarakat.

Materi ini membahas pentingnya mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sebagai identitas nasional. Kamu diharapkan mampu menerapkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai  Pancasila melalui penyusunan portofolio Saya Ber-Pancasila.

Saya dan Pancasila

Bagian ini menjelaskan hubungan antara individu dan Pancasila, dimana nilai-nilai Pancasila berasal dari budaya dan tradisi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, menjaga Pancasila berarti mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Sudahkah Kita Ber-Pancasila?

Menggali Pancasila dari Tradisi:

Ir. Sukarno menyatakan bahwa Pancasila bukanlah ciptaannya, melainkan hasil penggalian dari tradisi-tradisi bangsa Indonesia.

Nilai-nilai Pancasila telah dipraktikkan oleh nenek moyang kita elalui berbagai tradisi seperti gotong royong, musyawarah, solidaritas, dan kepercayaan kepada Tuhan.

Tradisi Gotong Royong:

Bangsa Indonesia sejak dulu telah terbiasa bergotong royong dalam berbagai kegiatan seperti bercocok tanam, membangun rumah, dan acara-acara adat.

Contoh tradisi gotong royong yang masih ada hingga kini meliputi sinoman di Jawa, nganggung di Bangka, marsialapari di Mandailing, Rambu Solo di Toraja, dan ngayah di Bali.

Gotong royong mengedepankan kerjasama dan kepedulian, dimana kepentingan kolektif lebih diutamakan daripada kepentingan individu.

Tradisi Musyawarah:

Musyawarah merupakan tradisi bangsa Indonesia dalam mengambil keputusan. Dalam musyawarah, setiap orang memiliki hak yang setara untuk menyampaikan pendapat dan tidak boleh memaksakan kehendak.

Keputusan yang dihasilkan dari musyawarah harus dipatuhi oleh semua pihak.

Solidaritas dan Empati:

Bangsa Indonesia dikenal memiliki solidaritas dan empati yang tinggi. Masyarakat saling membantu dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan.

Bantuan dan pertolongan ini mencerminkan nilai-nilai Pancasila yang telah menjadi bagian dari tradisi.

Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa:

Sejak dulu, bangsa Indonesia percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kepercayaan ini masih dapat dijumpai hingga kini, dimana masyarakat menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

Adaptasi dan Pengamalan Nilai-Nilai Pancasila

Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia bersumber dari tradisi dan budaya bangsa. Nilai-nilai Pancasila terus beradaptasi dengan perkembangan zaman dan tetap relevan untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa pengamalan nilai-nilai Pancasila  dalam masyarakat lebih baik dibandingkan dengan kalangan pejabat.

Pentingnya Pengamalan Pancasila

Pengamalan nilai-nilai Pancasila perlu terus ditingkatkan untuk mengatasi berbagai persoalan bangsa.

Jika semua elemen bangsa mengamalkan Pancasila dengan baik, Indonesia akan lebih cepat maju, hidup rukun, damai, dan tidak banyak terjadi kekerasan.

Refleksi Diri

Setiap individu perlu merefleksikan apakah perilakunya sudah mencerminkan nilai-nilai Pancasila.

Pengamalan nilai-nilai Pancasila dimulai dari diri sendiri dan akan berkontribusi untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Pertanyaan reflektif seperti, Apakah perilakumu sudah mencerminkan nilai-nilai Pancasila? Perilaku seperti apa yang kamu lakukan di rumah,

di sekolah, maupun di lingkungan Masyarakat? dapat membantu dalam mengevaluasi diri dan mengarahkan tindakan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Menilai Perilaku dengan Nilai-Nilai Pancasila

Untuk menilai apakah perilaku kita mencerminkan nilai-nilai Pancasila, kita dapat merujuk pada nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila berdasarkan Peraturan BPIP No. 2 Tahun 2022 tentang Materi Dasar.

Sila 1: Ketuhanan Yang Maha Esa

  1. Beriman dan Bertuhan: Bangsa Indonesia adalah bangsa yang beriman kepada Tuhan dan menolak paham anti-Tuhan (ateisme).
  2. Saling Menghormati: Mengamalkan ajaran agama dengan beradab dan saling menghormati satu sama lain.
  3. Ibadah dengan Bebas: Menyembah Tuhan dan beribadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing secara bebas, beradab, dan adil.
  4. Harmoni Beragama: Melaksanakan ajaran agama dengan tetap menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
  5. Tidak Memaksakan Agama: Tidak memaksakan agama atau kepercayaan kepada orang lain.
  6. Sila 2: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

    1. Bersatu dengan Dunia: Indonesia adalah negara yang merdeka dan berdaulat, bekerja sama dengan masyarakat internasional tanpa bersikap chauvinistik.
    2. Menghormati Keberagaman: Menghendaki pergaulan dengan bangsa lain dengan prinsip saling menghormati nilai-nilai nasionalisme dan kearifan lokal.
    3. Menjunjung Hak Asasi Manusia: Menjunjung tinggi hak asasi manusia dan mengembangkan persaudaraan berdasarkan nilai-nilai keadilan dan keadaban.
    4. Kesetaraan Manusia: Mengakui dan memperlakukan manusia setara sesuai harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
    5. Sikap Tenggang Rasa: Mengembangkan sikap saling tenggang rasa, memahami bahwa perbedaan suku, ras, agama, dan kepercayaan adalah keniscayaan yang tidak boleh menimbulkan pertentangan.

    Sila 3: Persatuan Indonesia

    1. Persatuan Nasional: Persatuan Indonesia tidak hanya timbul dari kesatuan nasib, tetapi juga dari kesatuan antara orang dan tanah air yang didiaminya.
    2. Semangat Kebangsaan: Persatuan Indonesia dilandasi semangat kebangsaan yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.
    3. Kepentingan Bersama: Menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
    4. Cinta Tanah Air: Mengembangkan rasa cinta tanah air dan bangsa serta bersedia berkorban untuk kepentingan negara jika diperlukan.
    5. Kebanggaan Nasional: Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
Sila 4: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
  1. Negara untuk Semua: Negara Indonesia didirikan untuk semua yang bertanah air Indonesia, bukan untuk satu golongan.
  2. Kedaulatan Rakyat: Negara demokrasi yang mengakui dan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dengan prinsip permusyawaratan.
  3. Demokrasi Permusyawaratan: Demokrasi Indonesia adalah demokrasi yang berlandaskan permusyawaratan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial.
  4. Menghormati Keputusan Musyawarah: Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai melalui musyawarah dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab.
  5. Menolak Diktator Mayoritas dan Tirani Minoritas: Tidak mengenal sistem diKtator mayoritas dan tirani minoritas.
  6. Sila 5: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

    1. Meningkatkan Kesejahteraan: Negara Indonesia didirikan untuk memajukan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, baik lahir maupun batin.
    2. Kedaulatan Rakyat dalam Keadilan: Mengakui dan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dengan prinsip permusyawaratan dalam lembaga perwakilan.
    3. Hak Pendidikan dan Penghidupan: Negara wajib menjamin setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan, pekerjaan, dan penghidupan yang layak, bermartabat, dan adil.
    4. Nilai-Nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan: Keputusan diambil berdasarkan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan untuk mewujudkan keadilan.
    5. Penggunaan Hak Milik: Tiap warga bangsa tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.


KELAS X BAB 2 - MEMBANGUN BUDAYA TAAT HUKUM

Rangkuman Materi Pancasila Kelas 10 Bab 2 Membangun Budaya Taat Hukum Membangun Kesadaran Hukum Untuk menjamin keberlangsungan dan keseimban...