Bagian 2 - Saya dan Pancasila
Materi Pendidikan Pancasila Fase F Kelas 12 Kurikulum Merdeka, untuk Elemen Pancasila adalah Ber-Pancasila dalam Keseharian di Masyarakat
Materi Pancasila terdiri dari 4 bagian , yaitu :
- Saya dan Pancasila
- Saya Ber-Pancasila
- Laporan Rancangan Portofolio
Subbab 1: Contoh Pengamalan Pancasila
Pada subbab pertama, kita mempelajari berbagai contoh pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dan melalui studi kasus.
Contoh-contoh ini membantu memahami bagaimana Pancasila dapat diterapkan dalam berbagai situasi dan aktivitas sehari-hari.
Subbab 2: Praktik Pengamalan Nilai-Nilai Pancasila
Di subbab kedua, fokus beralih pada praktik langsung dari nilai-nilai Pancasila.
Kamu diminta untuk membuat portofolio yang mendokumentasikan praktik pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-harimu.
Portofolio ini bertujuan agar praktik ber-Pancasila kamu terus terekam dan konsisten dilakukan.
Sebelum membuat portofolio, penting untuk memahami bentuk-bentuk praktik pengamalan nilai-nilai Pancasila sebagai inspirasi.
Praktik-praktik tersebut harus disesuaikan dengan kondisi dan konteks masing-masing individu.
Sila Ke-1: Ketuhanan Yang Maha Esa
Pada sila pertama, bangsa Indonesia diajarkan untuk memercayai dan menghormati adanya Tuhan Yang Maha Esa.
Kepercayaan ini menjadi pedoman bagi setiap individu untuk menjalankan ajaran agama atau kepercayaannya.
Contoh Praktik Pengamalan Sila Pertama:
- Memeluk Agama/Kepercayaan: Memeluk dan memercayai sepenuhnya salah satu agama atau kepercayaan, mengamalkan ajaran-ajarannya, dan menghindari hal-hal yang dilarang oleh agama tersebut.
- Menghargai Pemeluk Agama Lain: Menghargai pemeluk agama lain dengan tidak melakukan penistaan agama,
seperti tidak merendahkan atau melecehkan Tuhan agama lain, tidak melakukan pembakaran rumah ibadah, dan tidak menghalang-halangi orang lain melaksanakan ibadah.
- Kerja Sama Antar Agama: Bekerja sama dengan pemeluk agama lain tanpa membeda-bedakan berdasarkan agama atau kepercayaan.
- Tidak Memaksa Keyakinan: Tidak memaksa orang lain untuk memeluk agama atau kepercayaan tertentu.
- Menghormati Ibadah: Tidak membuat kegaduhan atau mengganggu ketika pemeluk agama lain melaksanakan ibadah atau upacara keagamaan.
Prinsip Dasar: Setiap manusia lahir dengan harkat dan martabat yang sama di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.
Oleh karena itu, setiap manusia memiliki persamaan derajat, hak, dan kewajiban asasi tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit, dan lain sebagainya.
Contoh Praktik Pengamalan Sila Kedua:
- Menentang Human Trafficking: Aktif melawan segala bentuk perdagangan manusia yang masih sering terjadi.
- Menghargai Perbedaan: Berbaur dan bergaul dengan semua orang tanpa membeda-bedakan latar belakang.
- Menolak Bullying dan Kekerasan: Tidak melakukan bullying atau kekerasan fisik maupun nonfisik baik di sekolah maupun di luar sekolah.
- Kegiatan Sosial: Terlibat dalam kegiatan sosial seperti membantu donasi kepada panti asuhan, korban bencana alam, korban kekerasan, dan terorisme.
- Mencegah Kejahatan dan Kekerasan: Mencegah terjadinya kejahatan dan kekerasan kepada siapa pun, tanpa memandang latar belakang mereka.
- Pemeliharaan Lingkungan: Berpartisipasi dalam upaya dan program pemeliharaan lingkungan yang layak dan berkelanjutan.
- Partisipasi Internasional: Ikut serta dalam kegiatan internasional seperti pendidikan, olahraga, atau program perdamaian dunia.
- Kolaborasi Lintas Negara: Berkolaborasi dengan siswa dari negara lain untuk menciptakan persaudaraan global.
- Menghindari Fitnah dan Ujaran Kebencian: Tidak membuat fitnah, ujaran kebencian, serta tidak menyebarluaskan hoaks.
Pengamalan nilai-nilai Pancasila, khususnya sila kedua dapat dilakukan dengan berbagai cara yang mencerminkan penghormatan terhadap harkat dan martabat setiap manusia, serta tindakan nyata alam
melawan ketidakadilan dan kekerasan. Dokumentasi praktik-praktik ini dalam bentuk portofolio membantu menjaga konsistensi dan mencatat perkembangan pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Sila ke-3: Persatuan Indonesia
Sila ketiga dari Pancasila, Persatuan Indonesia, menekankan pentingnya menjaga Persatuan dan kesatuan bangsa. Jika sila kedua mengembangkan kemanusiaan universal yang berlaku untuk semua manusia, sila ketiga fokus pada persatuan Indonesia di tengah-tengah polarisasi dan konflik,
baik antarwarga maupun gerakan separatisme, serta menghadapi tantangan dari kelompok yang ingin menggantikan Pancasila dengan ideologi lain.
Praktik Pengamalan Sila Ketiga
Berikut adalah beberapa contoh praktik pengamalan sila ketiga dalam kehidupan sehari-hari yang bisa disesuaikan dengan konteks dan kondisi masing-masing individu:
- Mempertahankan Status Warga Negara Indonesia:
- Mempertahankan dan Menjaga Tradisi Lokal:
- Menjaga Lingkungan Indonesia:
o Melakukan upaya menjaga kebersihan dan mencegah perusakan lingkungan, seperti tidak melakukan pembalakan liar.
- Menempatkan Kepentingan Nasional dan Kelompok di Atas Kepentingan Pribadi:
o Menolong teman yang sedang kesusahan dan memprioritaskan kepentingan bersama.
- Memajukan Perekonomian Lokal:
o Memberdayakan UMKM serta membeli dan menggunakan produk-produk lokal daripada produk impor.
- Menghindari Konflik:
o Tidak mengejek, mengadu domba, atau membully sesama warga negara dengan latar belakang yang berbeda.
- Menghentikan Penyebaran Hoaks dan Ujaran Kebencian:
o Berpartisipasi dalam upaya menghentikan penyebaran berita palsu dan ujaran Kebencian.
- Ikut Serta dalam Kegiatan Sekolah dan Masyarakat:
o Aktif dalam kegiatan di sekolah dan masyarakat sebagai konsekuensi menjadi warga sekolah dan masyarakat.
Sila ke-4: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Setiap manusia memiliki latar belakang yang berbeda-beda, yang bisa menyebabkan kesalahpahaman, prasangka negatif, dan konflik.
Sila keempat Pancasila memberikan panduan untuk mengedepankan hikmat dan kebijaksanaan dalam musyawarah, artinya, keputusan harus diambil dengan bijaksana tanpa memaksakan pendapat.
Definisi Hikmat dan Kebijaksanaan
Hikmat: Kelembutan hati dan kejernihan berpikir.
Kebijaksanaan: Penggunaan akal pikiran dan akal budi.
Implementasi dalam Kehidupan Bernegara
Indonesia harus dipimpin oleh pemimpin yang memiliki hikmat kebijaksanaan melalui musyawarah atau demokrasi.
Pemimpin di sini mencakup semua jenjang dari RT/RW, lurah, walikota, bupati, gubernur, hingga presiden, serta pemimpin di berbagai sektor lainnya.
Contoh Praktik Pengamalan Sila Keempat dalam Keseharian
- Tidak Memaksakan Kehendak:
o Tidak memaksakan pendapat kepada orang lain, termasuk tidak melakukan suap untuk mendapatkan dukungan.
- Melakukan Musyawarah:
o Selalu bermusyawarah dalam memutuskan hal yang menyangkut kepentingan banyak orang dan mematuhi keputusan musyawarah meskipun berbeda pendapat.
- Menyuarakan Aspirasi:
o Aktif menyuarakan aspirasi, gagasan, dan solusi kepada pemimpin terkait upaya menyelesaikan masalah.
- Menggunakan Akal Sehat dan Hati Nurani:
o Bersikap, bertindak, dan berpikir logis serta menggunakan hati nurani sebelum bertindak, termasuk berefleksi tentang benar dan manfaat tindakan tersebut.5. Penyelesaian Konflik:
o Terlibat dalam upaya penyelesaian konflik dan mendamaikan pihak yang bertikai dengan cara-cara demokratis.
Sila ke-5: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Keadilan adalah nilai universal yang harus dijunjung tinggi oleh setiap manusia yang memiliki harkat, martabat, hak, dan kewajiban yang sama.
Menurut Pramoedya Ananta Toer, seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.
Keadilan tidak otomatis hadir, dan perlu diperjuangkan di tengah banyaknya ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita.
Definisi Keadilan Sosial
Keadilan di sini tidak hanya terbatas pada bidang hukum, tetapi mencakup semua aspek kehidupan.
Sukarno menyatakan bahwa keadilan sosial adalah suatu kondisi masyarakat yang adil dan makmur, di mana semua orang hidup berbahagia tanpa penghinaan, penindasan, dan penghisapan.
Semua orang cukup sandang, papan, dan hidup dalam suasana yang damai dan tenteram.
Contoh Praktik Pengamalan Sila Kelima dalam Keseharian
- Tidak Melakukan Pemerasan dan Penipuan:
o Hindari pemerasan dan penipuan di lingkungan sekolah, rumah, maupun masyarakat.
- Berlaku Adil sebagai Pemimpin:
o Ketika menjadi pemimpin (seperti OSIS atau ketua pemuda), bersikap adil kepada semua anggota tanpa memandang suka atau tidak suka.
- Hidup Sederhana:
o Tidak bersikap boros, hidup mewah, atau pamer kekayaan di tengah masyarakat.
- Menolong Orang yang Kesulitan:
o Membantu orang yang kesulitan, kesusahan, korban bencana alam, korban kekerasan, dan terorisme.
- Menjaga Keseimbangan hidup.
Memastikan keseimbangan hidup jasmani dan rohani, serta menjaga kesehatan fisik dan mental diri sendiri dan orang lain.
- Memanfaatkan Sumber Daya Alam:
- Menghargai Hasil Karya Teman:
o Tidak melakukan plagiasi dan menghargai hasil kerja teman.
- Menyampaikan Kebenaran:
o Berani menyampaikan kebenaran demi menegakkan keadilan, termasuk bersedia menjadi saksi atas kejadian yang diketahui.
- Membantu dalam Gerakan Sosial:
o Ikut serta membantu tenaga dan materi dalam gerakan sosial untuk membantu orang lain.
Evaluasi dan Pengamalan Nilai-nilai Pancasila
Langkah 1: Evaluasi Diri dalam Mengamalkan Nilai-nilai Pancasila
Setelah membaca bahan bacaan di atas, kamu diharapkan melakukan evaluasi diri terkait sejauh mana Kamu telah mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Gunakan skala 1-10 untuk menilai penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupanmu:
Langkah 2: Memberikan Alasan untuk Penilaian Diri
Berikan alasan mengapa kamu menilai dirimu layak mendapatkan nilai tersebut. Pertimbangkan aspek-aspek berikut:
Sila Pancasila mana yang paling kuat kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari?
Bagaimana kamu telah menerapkan nilai-nilai tersebut?
Langkah 3: Merencanakan Peningkatan Penerapan Pancasila
Setelah memberikan penilaian terhadap dirimu, pikirkan apa yang akan kamu lakukan atau rencanakan agar penilaianmu terus meningkat. Jelaskan apa yang perlu dilakukan, direncanakan, atau ditargetkan untuk meningkatkan angka penerapan Pancasila.
Langkah 4: Menulis Contoh Perilaku Sesuai Nilai-nilai Pancasila
Tuliskan sekurang-kurangnya tiga contoh perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat yang telah kamu lakukan dalam satu minggu ini.
Setiap contoh harus memuat informasi berikut:
- Deskripsi perilaku.
- Sila Pancasila yang digambarkan.
- Alasan memasukkan perilaku tersebut ke sila tersebut.
- Refleksi dari perilaku yang kamu lakukan.
Contoh format yang bisa digunakan:
Perilaku Saya: [Nama Perilaku]
Sila ke-: [Nomor Sila]
Deskripsi:
Langkah 5: Diskusi dan Presentasi
Setelah menulis contoh perilaku, ceritakan dan diskusikan dengan rekanmu. Kemudian, presentasikan di kelas dengan mempersiapkan hal-hal pokok yang perlu disampaikan. Hindari membaca catatan dan lakukan kontak mata dengan semua rekan di kelasmu.
Langkah 6: Menyusun Portofolio “Saya Ber-Pancasila”
Buat portofolio yang merekam pemikiran dan perilakumu dalam mempraktikkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat. Prinsip-prinsip yang harus dipegang dalam menyusun portofolio ini adalah:
- Kejujuran: Ceritakan secara jujur dan apa adanya perilakumu dalam mempraktikkan nilai-nilai Pancasila.
- Konsistensi: Rutin mencatat perilaku yang menggambarkan nilai-nilai Pancasila.
Deskripsikan secara detail tindakan yang dilakukan.
- Refleksi: Tuliskan refleksi dari perilaku yang dilakukan. Pertimbangkan pertanyaan- pertanyaan reflektif seperti:
o Perilaku yang dilakukan paling mendekati sila ke berapa dan mengapa?
o Apa yang dirasakan setelah melakukan perilaku tersebut?
o Penilaian diri dari 1-10 untuk perilaku tersebut dan alasannya.
- Desain dan Layout: Sesuaikan desain dan layout portofolio sesuai dengan selera masing- masing. Gunakan buku khusus atau teknologi seperti website/blog, Ms. Word, Ms. PowerPoint, atau Ms. Excel.
Langkah 7: Mengisi Portofolio Secara Rutin
Portofolio ini akan digunakan sepanjang satu atau dua semester ke depan. Dengan demikian, kamu akan mencatat dan merefleksikan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat.
Pastikan portofolio memuat:
- Identitas diri (nama, kelas, nomor induk, foto).
- Deskripsi perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
- Penilaian diri dan alasan penilaian tersebut.
- Perasaan dan manfaat perilaku bagi masyarakat.
- Bukti perilaku (foto atau tanda tangan dari pihak yang berwenang).
Tips untuk Menyusun Portofolio:
Konsisten mengisi portofolio.
Lengkapi komponen portofolio (deskripsi, nilai diri, refleksi, bukti, rencana tindak lanjut).
Desain dan layout portofolio sesuai dengan selera pribadi.

No comments:
Post a Comment